Search This Blog

Saturday, September 14, 2013

Rumah dengan harga Rp500.000,- mau? tunggu tahun 2019




Harga rumah "hanya" Rp500.000,- 
Kurs Dollar "hanya" Rp10/USD
Gaji pun mungkin cuma jadi Rp10.000 -.-

yak guys, memang angka-angka diatas itu udah bukan bahan becandaan atau khayalan lagi karena mulai tahun 2014 (jika sesuai rencana) Rupiah kita akan diredenominasi.

Redenominasi Rupiah? apaan tuh, bahasanya Vicky ya?

Sekilas emang mirip bahasanya Vicky, tapi percayalah yang ini ilmiah kok bukan buat ngegombalin wanita atau rakyat. Redenomisasi rupiah ini sederhananya adalah penyederhanaan kembali nilai rupiah, dengan cara menghilangkan beberapa angka nol dalam nominalnya, yang mana dalam rencana, rupiah kita nanti akan dikurangi 3 angka nolnya dengan tidak mengurangi nilainya.

Dalam hal ini, nilai rupiah akan sama, jadi 50.000,- rupiah lama akan sama nilainya dengan 50,- rupiah baru, tidak lebih murah atau rendah. Redenominasi beda dengan sanering atau pemotongan nilai rupiah yang dulu pernah diterapkan jamannya Bung Karno pada tahun 1959 dan 1965 yang mana memotong nilai rupiah tapi nilainya ikutan turun (karena harga barang tidak menyesuaikan) sehingga yang terjadi malah inflasi besar-besaran.


3 angka nol dihilangin? nggak ribet tuh? nggak heboh?

Nggak ribet lah namanya juga penyederhanaan masa ribet, penyeribetan donk namanya. Sebenarnya tanpa kita sadari, mungkin ada yang menyadarinya juga, bahwa udah banyak restoran maupun tempat belanja yang mencantumkan harga mereka dalam rupiah yang udah diredenominasi, misalnya di restoran biasanya dicantumkan harga besarannya aja misalnya Hot Chocolate Rp 25,- atau 25k sebenernya itu bisa dibilang mereka udah redenominasi, meskipun pas bayar angka nolnya banyak.. hehehehe



Well anyway, tantangan terbesar kebijakan pemerintah (dalam hal ini Bank Indonesia) ini bukan pada penerapannya tapi pada sosialisasinya. Memang pemerintah mengkhawatirkan akan adanya shock di masyarakat kalo tiba-tiba 3 angka nol hilang dari uang mereka akan dikira sama dengan sanering, yang mana nilainya akan lebih kecil. Seperti yang mungkin teman-teman sudah tau tingkat pendidikan di Indonesia ini masih rendah, pendidikan belum merata, penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan masih banyak, dan kondisi geografis Indonesia yang 13.000 lebih pulau membuat informasi akan redenominasi ini mungkin tidak berjalan lancar dan tidak semua terinformasikan dengan baik, karena itu penerapannya harus hati-hati. Mungkin di kota-kota besar tidak akan terlalu masalah tapi akan berpotensi jadi masalah di daerah-daerah lain yang jauh dari peradaban (kota-red.).

Kenapa sih ribet-ribet redenominasi, kenapa nggak kayak biasa aja?

Saya pernah baca di suatu buku judulnya Naked Traveler karya Trinity ketika dia berpisah dengan teman bulenya dia memberi kenang-kenangan berupa uang rupiah pecahan seribu, dan apa reaksi temannya itu? dia menolak. Ya dia menolak, karena dia kira uang pecahan itu nilainya tinggi sama seperti 1000 USD yang kalo dirupiahkan bernilai Rp10.000.000,- padahal seribu mah cuma bisa beli permen -.-' dan setelah dijelaskan, malah si bule yang heran dan ga nyangka uang rupiah itu nilainya kecil banget, ya ngenes sih dibilang gitu tp kenyataan -.-

Nah, redenominasi itu dimaksudkan untuk mengembalikan harga diri bangsa di mata internasional, jadi nanti kurs kita pun sama Dollar Amrik jadi ngga jauh jauh banget, misalnya awalnya Rp10.000/USD jadi "cuma" Rp10/USD. Selain itu juga menyederhanakan perhitungan akuntansi dan keuangan jadi ga kebanyakan nol.. :D

Kapan mau diganti rupiahnya prosesnya kayak apa?

Sebenernya kebijakan ini sudah saya dengar sejak saya kuliah (medio 2006-2008) hanya saja proses penerapannya selalu menemui hambatan, salah satunya saat terjadi krisis di tahun 2008. Nah, mumpung ekonomi Indonesia sedang membaik, well at least pertumbuhan terstabilisasi, dan Insya Allah tetap stabil mengingat kurs dan IHSG lagi bergejolak dan beriak-riak jinak, pemerintah berencana mengesahkan UU redenominasi pada tahun 2014 yang mana rancangannya diharapkan selesai akhir tahun 2013 ini.

Jika lancar maka tahun 2014 hingga tahun 2018 adalah tahun sosialisasi dan transisi, dimana nanti akan ada rupiah baru yang desainnya sama persis sama rupiah yang beredar sekarang, hanya saja 3 angka nolnya sudah hilangkan dan ada kata "BARU" di rupiah tersebut, dimana tentu saja nilainya sama persis dengan rupiah lama yang masih menggunakan 3 angka nol.

2019 hingga 2022 adalah masa finalisasi dimana rupiah yang diedarkan sudah tidak disertai kata "BARU" dan uang lama sudah ditarik dari pasaran, sehingga tahun 2022 kebijakan ini sudah penuh diterapkan.


Selama proses tersebut tentu kebijakan lain terkait harga, keuangan dan akuntansi akan juga dikeluarkan pemerintah secara bertahap dengan proses yang kuran lebih sama dengan proses peredaran Rupiah baru, misalnya di supermarket dan restoran-restoran diminta untuk memasang harga dengan rupiah baru, dan laporan keuangan serta akuntansi akan diminta untuk mencantumkan keterangan "Dalam Rupiah Baru" (beberapa merupakan asumsi saya pribadi).

2022?? 8 Tahun? Nggak kelamaan tuh?

Daripada cepet-cepet tapi gagal terus menyebabkan inflasi tak terkendali, semua barang-barang jadi mahal, gimana hayo? mending pelan-pelan, alon-alon asal kelakon, karena udah banyak negara yang sukses menerapkan redemoninasinya contohnyaTurki, Polandia, Rumania dan Ukraina, tapi banyak juga yang gagal antara lain Rusia, Argentina, Zimbabwe, Korea Utara, dan Brazil.

Kendala terbesar penerapan kebijakan ini adalah kondisi geografis Indonesia yang berpulau-pulau sehingga informasi mengenai ini harus sampai ke pelosok-pelosok Indonesia tanpa terkecuali, dan lagi ditambah tingkat pendidikan sebagian penduduk Indonesia yang masih yang belum tentu dapat mengerti kebijakan ini.

Kalau memang teman-teman mau supaya kebijakan ini lancar, dan ingin punya mata uang dengan nilai yang "lebih tinggi" serta bisa agak sombong dikit di dunia internasional, maka mulai lah sebar informasi ini kepada orang-orang terdekat :)

Selamat berbagi!

Sumber dan kontributor:
detik.com
id.wikipedia.org
beritasatu.com
bi.go.id
dan semua blog yang membahas perihal ini

No comments: